Sanct. Angelum

Sanct. Angelum

Author : Momochi

Cast : Kim Jong In and Lee Haneul [Celeste]

Length : Ficlet | Rating : G

Genre : Fluffy

 

 Café Momochi

 

Ketika Aku memejamkan kedua mataku, disanalah Aku menemukannya. Berdiri dengan seribu kerinduan yang menghantuiku. Dikelilingi semak hydragea yang sangat cantik terlihat dari atas. Bagaikan bola saju di musim gugur. Bunga hydragea yang berbentuk bintang dengan warna lembut pastel menunjukkan kepolosan pada seseorang yang berdiri diantaranya.

Pria itu selalu menungguku. Datang dengan penampilan yang berbeda dari hari ke hari. Tidak sepertiku yang selalu memakai putih dengan bawaan yang membuatku terlihat special.

Kali ini ia memakai pakaian yang menyerupai jaket baseball lembut bercorak hitam-oranye. Melapisi selembar kain tipis putih didalamnya dengan jeans hitam yang selalu membuat kaki-kakinya terlihat indah.

Pria itu memberikkan senyumnya ketika sayap-sayapku mendaratkan kulit porselenku disisi bunga Bleeding Heart. Seakan merasa terikat pada taman dan bunga-bunga disini. Walaupun bertelanjang kaki tetapi taman ini membuat tananhnya selembut salju seakan tidak ingin membuat telapak kakiku terluka.

Putik-putik bunga bertebaran akibat pusaran angin yang datang bersamaan denganku. Ketika aku berjalan mendekatinya, beberapa kupu-kupu melayang-layang dikakiku, seolah mereka membuat team yang akan menemaniku menghampiri seorang Pria dengan pesona yang begitu suilt untuk dilewatkan.

“Kau telat lagi, Lee Haneul.” Pria itu mengulurkan satu tangannya. Seperti bersiap-siap menangkapku jika pendaratan ini membuat tubuhku goyah.

“Akan selamanya jika kau terus memanggilku dengan nama buatanmu itu.” Aku tertawa lalu mendapati ulurannya. Ia tertawa kecil dan langsung membawaku ke sebuah kursi besi berwarna putih yang dililiti tanaman ivy serta dibentengi pohon elm yang terlihat seperti benda selamat datang.

Kedua sayapku yang lebar membentang dengan sendirinya meringkuk dan melipat rapi dibalik punggungku.

Mataku terus menelusuri tempat ini. Tak ada yang berubah walaupun kelihatan semakin indah. Mungkin karena kedatanganku selalu disambut seorang Pria yang sangat kucintai. Ketika mendekat, tanaman ivy menari-nari tertiup angin. Tanaman itu terlihat senang dengan kedatangan Kami. Namun ada yang berbeda hari ini.

“Kai,” Panggilku dan Kami terduduk. “Apa kunang-kunang tidak mau bertemu denganku kali ini?”

Kai tersenyum. Dari sudut mataku, aku bisa melihat bordiran yang sangat rapi membentuk namanya pada jaket itu, “Ini masih sangat awal, mungkin sebentar lagi mereka datang.” Katanya dan Aku mengangguk.

“Lalu kemana para tupai dan kelinci-kelinci? Apa kau tidak memberitahu mereka bahwa aku akan datang?”

Kai tersenyum lagi. Jari-jarinya dengan sangat terlatih menelusuri setiap helaian rambut hitamku, “Mereka juga sebentar lagi datang, angel.”

Ucapannya begitu tenang ditelingaku. Seakan apa yang dikatakan adalah jawaban setiap keraguanku bahwa Aku memang sangat mencintainya. Walaupun ruang dan waktu membedakan Kami, tetapi tak ada yang lebih kuinginkan selain dirinya. Manusia yang kucintai.

Aku sedikit membungkuk, mencoba menyapa bunga-bunga disekitarku. Di Bumi, merekalah teman-temanku. Teman yang menjadi saksi pertemuanku dengan Kai yang entah kapan bisa bertahan.

Bila dirumah, aku selalu berfikir, apakah hubungan terlarang ini aman? Maksutku aman untuknya? Dan bisakah Kami bersatu dalam ikatan suci?

“Lee Haneul?”

“Ya?” Jawabku tanpa beralih menatapnya.

“Aku boleh bertanya satu hal padamu?” Tanyanya. Aku tersenyum kecil sebelum memutuskan menatap lekat bola mata Kai.

“Lima pertanyaan pun akan kubolehkan jika kau berhenti memanggilku Lee Haneul.”

Kai tertawa kecil, “Jika kau tahu artinya kau akan suka karena itu cocok sekali untukmu.”

“Memang apa?” kataku penasaran sambil mempersempit jarak antara Kami.

“Lee berarti keemasan, sedangkan Haneul itu langit dan surga.” Terangnya dengan nada yang indah. Suaranya bagaikan lantunan irama merdu yang ingin membuatku memilikinya.

Aku tersenyum, “Benarkah?” Kai mengangguk penuh sabar, “Keren!”

Aku bertepuk tangan kecil. Kai menatapku seakan aku ini adalah anak berusia 7 tahun yang sedang dijanjikan pergi ke Disney Land dan membeli banyak boneka disana. Kai memang pria yang sempurna. Matanya bercahaya setiap kali ia tersenyum, bahkan tak ada orang lain yang memiliki senyuman sepertinya.

Bagiku, Kai adalah seorang sanctum angelum(malaikat suci) dihidupku. Walaupun itu sebaliknya

Kai memiliki tubuh tinggi dan ramping, tapi dibalik jaketnya, aku bisa menangkap bahunya bak perenang. Jika aku menatapnya, aku menyadari bahwa daya tariknya sangat ditunjang oleh auranya yang tenang. Ini terlihat dari bahasa tubuhnya dan kulitnya yang mulus.

Well, apa menurutmu nama asliku kurang cocok?”

Kai menggeleng pelan, “Hanya sedikit tidak cocok dilidahku,” katanya, “Celeste. Seperti bukan nama seorang angel.” Biasanya aku akan marah jika seseorang mengomentari namaku, tapi tidak untuk Kai. Ia tertawa sambil mengacak-acak rambutku.

“Hei, Kau merusak Halo-ku!” Omelku dan Kai mengangkat tangannya pertanda Ia menyerah dan meminta maaf atas ketidaksengajaan itu. Aku terkekeh dalam hati, jelas saja, mana mungkin Halo-ku bisa rusak. Bahkan disentuh manusia saja tidak bisa. Ini hanya sekumpulan cahaya putih berbentuk bundar diatas kepalaku. Mungkin ini yang menjadikanku terlihat berbeda dengannya selain kedua sayap putihku.

“Jadi, apa yang mau kau tanyakan padaku?”

Kai tersadar, kemudian ia kembali serius dan berdeham sebelum bertanya, “Apa yang akan kau lakukan jika…” Ia terdengar ragu, aku bisa melihat itu, “jika kau tidak diizinkan lagi untuk turun?”

Aku setengah melotot, terkejut atas pertanyaannya. Rahangku mengeras dan aku tidak bisa memfokuskan tatapanku padanya. Aku tidak sanggup. Pertanyaan Kai begitu menuntut dan mengharuskan menjawabnya walaupun aku tidak tahu atas itu.

“Aku tidak tahu Kai.” Aku mendesah, “ Mungkin akan menyibukkan diri mengatur roh anak-anak memasuki jalan Surga.” Ucapku pelan.

Ini salah. Tentu yang dimaksut kata ‘turun’ adalah bahwa aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi.

Kai segera memegang kedua pipiku dengan penuh kelembutan, seakan bersiap-siap menghapus cairan bening jika aku menangis. Kai memang selalu penuh persiapan.

“Kalau itu terjadi, Kuharap kau bahagia dengan masa depanmu nanti.” Kataku dan akhirnya persiapan Kai tepat sekali. Aku menangis dan Ia mengusapnya dengan hati-hati.

“Ssshh Hei… don’t cry, angel.” Kai segera memelukku dan membenamkan kepalaku pada kehangatannya, membiarkan air mata ini jatuh membasahi t-shirt putihnya, “Dengar, masa depanku tidak akan ada tanpamu. Jika itu terjadi, aku berani bertaruh tidak akan ada lagi seorang Kim Jong In didunia ini.” Ucapnya, kemudian Ia berbisik, “that’s my promise, angel.

Kepalaku menggeleng di dada bidangnya, “No! Kau harus tetap hidup, Kai. I won’t let it happen.”

Kai menghela nafasnya, terdengar jelas jantungnya yang berdegup kencang, “Tidak ada alasan lagi untukku bertahan hidup jika aku tidak bisa bertemu dengan masa depanku lagi.” Tangannya membelai rambutku, “You’re my angel and my… future.”

Ucapannya bagaikan hantaman besar untukku. Aku tidak bisa berkata apapun karena aku sangat mencintainya. Tak ada yang kuinginkan selain Kai. Tidak bisa terbayang jika aku tidak bisa melihat senyumnya lagi. Senyuman yang selalu membuat bunga-bunga hidup, kupu-kupu menari-nari dan membuatku tidak bisa melupakan itu. Senyumannya terlalu bermakna dan sayang jika dilupakan.

“Tapi Tuhan membenci itu. Tuhan tidak mengizinkan manusia menikmati surganya dengan cara seperti itu. Tentu kau tidak mau menghabiskan seribu tahunmu dalam api neraka, kan?” Ujarku dan seketika aku melingkarkan tanganku di pinggangnya. Aku tidak sanggup bila itu terjadi. Kehidupan di hades (neraka, tempat penyiksaan) sangatlah gelap. Tidak ada cahaya dan semuanya bertahan dengan keserakahan dan keegoisan. Disana Kalian tidak bisa menemukan kejujuran dan kesetiaan. Itu sangat mengerikan.

“Jika setelah itu aku bisa bertemu denganmu, kurasa aku sanggup.”

“Jangan bercanda, Kai. Kau tidak akan mengerti.” Aku mempererat pelukan. Aroma khas seorang Kim Jong In membuatku begitu tenang. Tidak ada Lucifer, tidak ada orang lain, hanya Kami berdua. Yang berpelukan saling menyatukan diri dan membagi kasih sayang yang begitu besar.

Kai tidak menjawab. Kami terdiam untuk waktu yang lama. Sesekali Kai mencium puncak kepalaku dan kembali mengeratkan pelukan. Sebagai Malaikat aku merasa tidak berguna. Yang ada, aku membuat seorang manusia yang sedang berdebat dengan pikiran-pikirannya mengenai kehidupan yang sulit.

Hari semakin gelap. Namun Kami belum beranjak dari tempat itu. Kai masih mendekapku dalam posisinya. Seakan Ia hanya ingin menghabiskan hidupnya dengan memelukku sampai Tuhan mencabut nyawanya.

Tak lama cahaya-cahaya kuning berterbangan dari arah barat. Mereka berdatangan seperti sekumpulan pasukan yang akan menjaga Kami bila ada serangan datang. Aku juga melihat semak hydragea menari-menari disana, dan menampilkan beberapa hewan berkuping panjang berwarna keabu-abuan. Mereka selalu mewarnai pertemuanku dengannya. Seolah mereka juga merasakan cinta yang terhubung antara Kami.

Aku tersenyum dalam dekapan Kai. Kegelapan ini membuat cahaya pada diriku memancarkan sinar putih. Aku mendongak dan melihat Kai sedang memejamkan matanya. Wajahnya begitu polos, nafasnya juga sangat teratur. Senyumku melebar setelah aku berhasil mengecup dagunya. Kai begitu damai. Aku yakin orang-orang terdekatnya akan merasa nyaman dan bahagia. Sepertiku.

Aku bahkan lupa menanyakan kegiatannya hari ini dan mengingatkan Ia untuk selalu berdoa di rumah Tuhan setiap minggu.

I love you, Kim Jong In.” gumamku.

I Know.”

“Hei, Kau tidak tidur ya?” Aku mencubit perutnya dan Ia mengaduh sambil tertawa kecil.

Kami tersenyum dan kemudian sebuah suara yang menggema memaksaku dan Kai untuk mendengarnya. “Uhm, those wolves are really cute.“ bisikku. Kai mengangguk dan Kami membisu, seakan tidak mau mengganggu auman serigala-serigala disana.

Aku masih terpesona dengan suara-suara itu sebelum Kai berkata, “Celeste, will you marry me?”

Tubuhku membeku, terlalu terkejut dengan kata-kata yang selalu kutakutkan itu. Aku tidak berani menoleh, karena jika menatapnya akan membuatku lupa pada peraturan dan hukum langit. Kai begitu memabukkan. Tapi aku tidak mau mengecewakannya. dan juga diriku. Cintaku begitu besar padanya. Aku tidak bisa hidup tanpa Kai.

Aku tertawa lemah, “Jangan bercanda, umurmu baru sembilan belas tahun, Kai. Perjalanan hidupmu masih panjang. Kau masih bisa merencanakan sesuatu untuk masa depanmu nanti. Lagipula, apa yang dilakukan dengan ibumu jika mendengar anaknya menikah diusia muda. Kau sangat berbakat , terlebih dalam bidang art dan olahraga. Kau bisa memilih salah satunya untuk masa depanmu.”

I don’t need your advice,” Katanya, “Yes or not?”

Aku terdiam.

Kai, bagaimana cara menyampaikan bukan campur tangan manusia yang kucemaskan? Bukankah Kita sudah tahu bahwa hubungan ini tidak benar? Dalam peraturan langit, seorang Malaikat harus memberi kasih sayang pada manusia, tapi bukan kasih sayang seperti yang kuberikan padamu, Kai. Seharusnya dari dulu aku tidak membiarkanmu melihatku di taman ini. seharusnya aku tidak boleh mencintaimu, dan begitupun sebaliknya.

Well?” Kai bertanya sekali lagi.

Aku menghela nafas, “Ya.”

Kai tersenyum lega, seperti sangat bahagia dengan jawabanku yang memang itulah kenyataannya. Bahwa aku ingin bersama dengan Kai untuk selamanya dalam ikatan kuat. Kai kembali memelukku erat sebelum membawaku kesebuah pohon besar yang rimbang. Sangat cocok untuk tempat berteduh meskipun cuaca hari ini tidak terik ataupun turun hujan.

“Kau tahu, aku sudah menduga kau akan setuju, dan aku sudah mengurus persiapannya. Bapa Choi bersedia menolong kita.” Ucapnya dan aku melongo. Ternyata Ia tidak bercanda.

“Kau membuatnya terdengar begitu mudah,” protesku, “Ini tidak semudah yang kau pikirkan.”

Kai tersenyum, sangat tulus, “Karena memang mudah. Pernikahan adalah sakramen suci. Bahkan Tuhan nanti harus puas.”

Apa yang bisa kulakukan selain membalas senyum optimisnya? Lagipula,itu benar. Pernikahan adalah keindahan yang diberikan Tuhan. Tapi tidak untuk Malaikat. Aku ingat kesedihan Kai ketika membutuhkan enam bulan untuk bertemu denganku. Dan sekarang, Ia disini, berdiri dihadapanku yang siap mempertaruhkan segalanya demi kebahagiaan. Membuatku begitu mencintainya dan tidak ingin kehilangannya, meski itu akan melepas kemarahan surga.

“Kau masih bisa mundur,” Ucapnya lirih, sepertinya Kai membaca ketidakyakinan diwajahku, “Aku akan mengerti.”

Aku ragu sesaat, semua kemungkinan konsekuensi membanjiri kepalaku. Tetapi ketika Kai meraih tanganku, semuanya menyingkir dan aku tahu persis apa yang kuinginkan.

“Tidak akan,” kataku. “Aku tidak sabar ingin menjadi Ny. Kim Jong In.”

Syukurlah Ia tersenyum. Sebelum sadar apa yang terjadi, Kai mencondongkan tubuhnya dan mencium bibirku. Hanya sekilas tapi cukup membuat tubuhku bergetar. Aku suka caranya merangkulku. Seakan aku begitu rapuh dan mudah patah jika dirangkul  terlalu erat. Kai menempelkan dahinya kedahiku, seolah-olah waktu adalah milik kami berdua. Aku membiarkan tubuhku mendekat dan memeluknya. Kehangatan tubuhnya yang selalu membuatku tenang.

Aku tidak memerlukan Penghulu Malaikat, tidak menginginkan Pangeran tampan. Yang Kumau hanya dirinya, Kim Jong In.

Kali ini, Kai mengangkat tangan untuk menepiskan sejumput rambut yang jatuh menutupi mataku, lalu mencium keningku. Kecupan bibirnya bagaikan sentuhan sayap kupu-kupu.

“Apa yang sudah dipersatukan Tuhan, manusia tidak boleh menceraikannya.”

The End

 Author : Puu

Cast : Kim Jong In and Lee Haneul [Celeste]

Length : Ficlet | Rating : G

Genre : Romance

 Ketika Aku memejamkan kedua mataku, disanalah Aku menemukannya. Berdiri dengan seribu kerinduan yang menghantuiku. Dikelilingi semak hydragea yang sangat cantik terlihat dari atas. Bagaikan bola saju di musim gugur. Bunga hydragea yang berbentuk bintang dengan warna lembut pastel menunjukkan kepolosan pada seseorang yang berdiri diantaranya.

Pria itu selalu menungguku. Datang dengan penampilan yang berbeda dari hari ke hari. Tidak sepertiku yang selalu memakai putih dengan bawaan yang membuatku terlihat special.

Kali ini ia memakai pakaian yang menyerupai jaket baseball lembut bercorak hitam-oranye. Melapisi selembar kain tipis putih didalamnya dengan jeans hitam yang selalu membuat kaki-kakinya terlihat indah.

Pria itu memberikkan senyumnya ketika sayap-sayapku mendaratkan kulit porselenku disisi bunga Bleeding Heart. Seakan merasa terikat pada taman dan bunga-bunga disini. Walaupun bertelanjang kaki tetapi taman ini membuat tananhnya selembut salju seakan tidak ingin membuat telapak kakiku terluka.

Putik-putik bunga bertebaran akibat pusaran angin yang datang bersamaan denganku. Ketika aku berjalan mendekatinya, beberapa kupu-kupu melayang-layang dikakiku, seolah mereka membuat team yang akan menemaniku menghampiri seorang Pria dengan pesona yang begitu suilt untuk dilewatkan.

“Kau telat lagi, Lee Haneul.” Pria itu mengulurkan satu tangannya. Seperti bersiap-siap menangkapku jika pendaratan ini membuat tubuhku goyah.

“Akan selamanya jika kau terus memanggilku dengan nama buatanmu itu.” Aku tertawa lalu mendapati ulurannya. Ia tertawa kecil dan langsung membawaku ke sebuah kursi besi berwarna putih yang dililiti tanaman ivy serta dibentengi pohon elm yang terlihat seperti benda selamat datang.

Kedua sayapku yang lebar membentang dengan sendirinya meringkuk dan melipat rapi dibalik punggungku.

Mataku terus menelusuri tempat ini. Tak ada yang berubah walaupun kelihatan semakin indah. Mungkin karena kedatanganku selalu disambut seorang Pria yang sangat kucintai. Ketika mendekat, tanaman ivy menari-nari tertiup angin. Tanaman itu terlihat senang dengan kedatangan Kami. Namun ada yang berbeda hari ini.

“Kai,” Panggilku dan Kami terduduk. “Apa kunang-kunang tidak mau bertemu denganku kali ini?”

Kai tersenyum. Dari sudut mataku, aku bisa melihat bordiran yang sangat rapi membentuk namanya pada jaket itu, “Ini masih sangat awal, mungkin sebentar lagi mereka datang.” Katanya dan Aku mengangguk.

“Lalu kemana para tupai dan kelinci-kelinci? Apa kau tidak memberitahu mereka bahwa aku akan datang?”

Kai tersenyum lagi. Jari-jarinya dengan sangat terlatih menelusuri setiap helaian rambut hitamku, “Mereka juga sebentar lagi datang, angel.”

Ucapannya begitu tenang ditelingaku. Seakan apa yang dikatakan adalah jawaban setiap keraguanku bahwa Aku memang sangat mencintainya. Walaupun ruang dan waktu membedakan Kami, tetapi tak ada yang lebih kuinginkan selain dirinya. Manusia yang kucintai.

Aku sedikit membungkuk, mencoba menyapa bunga-bunga disekitarku. Di Bumi, merekalah teman-temanku. Teman yang menjadi saksi pertemuanku dengan Kai yang entah kapan bisa bertahan.

Bila dirumah, aku selalu berfikir, apakah hubungan terlarang ini aman? Maksutku aman untuknya? Dan bisakah Kami bersatu dalam ikatan suci?

“Lee Haneul?”

“Ya?” Jawabku tanpa beralih menatapnya.

“Aku boleh bertanya satu hal padamu?” Tanyanya. Aku tersenyum kecil sebelum memutuskan menatap lekat bola mata Kai.

“Lima pertanyaan pun akan kubolehkan jika kau berhenti memanggilku Lee Haneul.”

Kai tertawa kecil, “Jika kau tahu artinya kau akan suka karena itu cocok sekali untukmu.”

“Memang apa?” kataku penasaran sambil mempersempit jarak antara Kami.

“Lee berarti keemasan, sedangkan Haneul itu langit dan surga.” Terangnya dengan nada yang indah. Suaranya bagaikan lantunan irama merdu yang ingin membuatku memilikinya.

Aku tersenyum, “Benarkah?” Kai mengangguk penuh sabar, “Keren!”

Aku bertepuk tangan kecil. Kai menatapku seakan aku ini adalah anak berusia 7 tahun yang sedang dijanjikan pergi ke Disney Land dan membeli banyak boneka disana. Kai memang pria yang sempurna. Matanya bercahaya setiap kali ia tersenyum, bahkan tak ada orang lain yang memiliki senyuman sepertinya.

Bagiku, Kai adalah seorang sanctum angelum(malaikat suci) dihidupku. Walaupun itu sebaliknya

Kai memiliki tubuh tinggi dan ramping, tapi dibalik jaketnya, aku bisa menangkap bahunya bak perenang. Jika aku menatapnya, aku menyadari bahwa daya tariknya sangat ditunjang oleh auranya yang tenang. Ini terlihat dari bahasa tubuhnya dan kulitnya yang mulus.

Well, apa menurutmu nama asliku kurang cocok?”

Kai menggeleng pelan, “Hanya sedikit tidak cocok dilidahku,” katanya, “Celeste. Seperti bukan nama seorang angel.” Biasanya aku akan marah jika seseorang mengomentari namaku, tapi tidak untuk Kai. Ia tertawa sambil mengacak-acak rambutku.

“Hei, Kau merusak Halo-ku!” Omelku dan Kai mengangkat tangannya pertanda Ia menyerah dan meminta maaf atas ketidaksengajaan itu. Aku terkekeh dalam hati, jelas saja, mana mungkin Halo-ku bisa rusak. Bahkan disentuh manusia saja tidak bisa. Ini hanya sekumpulan cahaya putih berbentuk bundar diatas kepalaku. Mungkin ini yang menjadikanku terlihat berbeda dengannya selain kedua sayap putihku.

“Jadi, apa yang mau kau tanyakan padaku?”

Kai tersadar, kemudian ia kembali serius dan berdeham sebelum bertanya, “Apa yang akan kau lakukan jika…” Ia terdengar ragu, aku bisa melihat itu, “jika kau tidak diizinkan lagi untuk turun?”

Aku setengah melotot, terkejut atas pertanyaannya. Rahangku mengeras dan aku tidak bisa memfokuskan tatapanku padanya. Aku tidak sanggup. Pertanyaan Kai begitu menuntut dan mengharuskan menjawabnya walaupun aku tidak tahu atas itu.

“Aku tidak tahu Kai.” Aku mendesah, “ Mungkin akan menyibukkan diri mengatur roh anak-anak memasuki jalan Surga.” Ucapku pelan.

Ini salah. Tentu yang dimaksut kata ‘turun’ adalah bahwa aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi.

Kai segera memegang kedua pipiku dengan penuh kelembutan, seakan bersiap-siap menghapus cairan bening jika aku menangis. Kai memang selalu penuh persiapan.

“Kalau itu terjadi, Kuharap kau bahagia dengan masa depanmu nanti.” Kataku dan akhirnya persiapan Kai tepat sekali. Aku menangis dan Ia mengusapnya dengan hati-hati.

“Ssshh Hei… don’t cry, angel.” Kai segera memelukku dan membenamkan kepalaku pada kehangatannya, membiarkan air mata ini jatuh membasahi t-shirt putihnya, “Dengar, masa depanku tidak akan ada tanpamu. Jika itu terjadi, aku berani bertaruh tidak akan ada lagi seorang Kim Jong In didunia ini.” Ucapnya, kemudian Ia berbisik, “that’s my promise, angel.

Kepalaku menggeleng di dada bidangnya, “No! Kau harus tetap hidup, Kai. I won’t let it happen.”

Kai menghela nafasnya, terdengar jelas jantungnya yang berdegup kencang, “Tidak ada alasan lagi untukku bertahan hidup jika aku tidak bisa bertemu dengan masa depanku lagi.” Tangannya membelai rambutku, “You’re my angel and my… future.”

Ucapannya bagaikan hantaman besar untukku. Aku tidak bisa berkata apapun karena aku sangat mencintainya. Tak ada yang kuinginkan selain Kai. Tidak bisa terbayang jika aku tidak bisa melihat senyumnya lagi. Senyuman yang selalu membuat bunga-bunga hidup, kupu-kupu menari-nari dan membuatku tidak bisa melupakan itu. Senyumannya terlalu bermakna dan sayang jika dilupakan.

“Tapi Tuhan membenci itu. Tuhan tidak mengizinkan manusia menikmati surganya dengan cara seperti itu. Tentu kau tidak mau menghabiskan seribu tahunmu dalam api neraka, kan?” Ujarku dan seketika aku melingkarkan tanganku di pinggangnya. Aku tidak sanggup bila itu terjadi. Kehidupan di hades (neraka, tempat penyiksaan) sangatlah gelap. Tidak ada cahaya dan semuanya bertahan dengan keserakahan dan keegoisan. Disana Kalian tidak bisa menemukan kejujuran dan kesetiaan. Itu sangat mengerikan.

“Jika setelah itu aku bisa bertemu denganmu, kurasa aku sanggup.”

“Jangan bercanda, Kai. Kau tidak akan mengerti.” Aku mempererat pelukan. Aroma khas seorang Kim Jong In membuatku begitu tenang. Tidak ada Lucifer, tidak ada orang lain, hanya Kami berdua. Yang berpelukan saling menyatukan diri dan membagi kasih sayang yang begitu besar.

Kai tidak menjawab. Kami terdiam untuk waktu yang lama. Sesekali Kai mencium puncak kepalaku dan kembali mengeratkan pelukan. Sebagai Malaikat aku merasa tidak berguna. Yang ada, aku membuat seorang manusia yang sedang berdebat dengan pikiran-pikirannya mengenai kehidupan yang sulit.

Hari semakin gelap. Namun Kami belum beranjak dari tempat itu. Kai masih mendekapku dalam posisinya. Seakan Ia hanya ingin menghabiskan hidupnya dengan memelukku sampai Tuhan mencabut nyawanya.

Tak lama cahaya-cahaya kuning berterbangan dari arah barat. Mereka berdatangan seperti sekumpulan pasukan yang akan menjaga Kami bila ada serangan datang. Aku juga melihat semak hydragea menari-menari disana, dan menampilkan beberapa hewan berkuping panjang berwarna keabu-abuan. Mereka selalu mewarnai pertemuanku dengannya. Seolah mereka juga merasakan cinta yang terhubung antara Kami.

Aku tersenyum dalam dekapan Kai. Kegelapan ini membuat cahaya pada diriku memancarkan sinar putih. Aku mendongak dan melihat Kai sedang memejamkan matanya. Wajahnya begitu polos, nafasnya juga sangat teratur. Senyumku melebar setelah aku berhasil mengecup dagunya. Kai begitu damai. Aku yakin orang-orang terdekatnya akan merasa nyaman dan bahagia. Sepertiku.

Aku bahkan lupa menanyakan kegiatannya hari ini dan mengingatkan Ia untuk selalu berdoa di rumah Tuhan setiap minggu.

I love you, Kim Jong In.” gumamku.

I Know.”

“Hei, Kau tidak tidur ya?” Aku mencubit perutnya dan Ia mengaduh sambil tertawa kecil.

Kami tersenyum dan kemudian sebuah suara yang menggema memaksaku dan Kai untuk mendengarnya. “Uhm, those wolves are really cute.“ bisikku. Kai mengangguk dan Kami membisu, seakan tidak mau mengganggu auman serigala-serigala disana.

Aku masih terpesona dengan suara-suara itu sebelum Kai berkata, “Celeste, will you marry me?”

Tubuhku membeku, terlalu terkejut dengan kata-kata yang selalu kutakutkan itu. Aku tidak berani menoleh, karena jika menatapnya akan membuatku lupa pada peraturan dan hukum langit. Kai begitu memabukkan. Tapi aku tidak mau mengecewakannya. dan juga diriku. Cintaku begitu besar padanya. Aku tidak bisa hidup tanpa Kai.

Aku tertawa lemah, “Jangan bercanda, umurmu baru sembilan belas tahun, Kai. Perjalanan hidupmu masih panjang. Kau masih bisa merencanakan sesuatu untuk masa depanmu nanti. Lagipula, apa yang dilakukan dengan ibumu jika mendengar anaknya menikah diusia muda. Kau sangat berbakat , terlebih dalam bidang art dan olahraga. Kau bisa memilih salah satunya untuk masa depanmu.”

I don’t need your advice,” Katanya, “Yes or not?”

Aku terdiam.

Kai, bagaimana cara menyampaikan bukan campur tangan manusia yang kucemaskan? Bukankah Kita sudah tahu bahwa hubungan ini tidak benar? Dalam peraturan langit, seorang Malaikat harus memberi kasih sayang pada manusia, tapi bukan kasih sayang seperti yang kuberikan padamu, Kai. Seharusnya dari dulu aku tidak membiarkanmu melihatku di taman ini. seharusnya aku tidak boleh mencintaimu, dan begitupun sebaliknya.

Well?” Kai bertanya sekali lagi.

Aku menghela nafas, “Ya.”

Kai tersenyum lega, seperti sangat bahagia dengan jawabanku yang memang itulah kenyataannya. Bahwa aku ingin bersama dengan Kai untuk selamanya dalam ikatan kuat. Kai kembali memelukku erat sebelum membawaku kesebuah pohon besar yang rimbang. Sangat cocok untuk tempat berteduh meskipun cuaca hari ini tidak terik ataupun turun hujan.

“Kau tahu, aku sudah menduga kau akan setuju, dan aku sudah mengurus persiapannya. Bapa Choi bersedia menolong kita.” Ucapnya dan aku melongo. Ternyata Ia tidak bercanda.

“Kau membuatnya terdengar begitu mudah,” protesku, “Ini tidak semudah yang kau pikirkan.”

Kai tersenyum, sangat tulus, “Karena memang mudah. Pernikahan adalah sakramen suci. Bahkan Tuhan nanti harus puas.”

Apa yang bisa kulakukan selain membalas senyum optimisnya? Lagipula,itu benar. Pernikahan adalah keindahan yang diberikan Tuhan. Tapi tidak untuk Malaikat. Aku ingat kesedihan Kai ketika membutuhkan enam bulan untuk bertemu denganku. Dan sekarang, Ia disini, berdiri dihadapanku yang siap mempertaruhkan segalanya demi kebahagiaan. Membuatku begitu mencintainya dan tidak ingin kehilangannya, meski itu akan melepas kemarahan surga.

“Kau masih bisa mundur,” Ucapnya lirih, sepertinya Kai membaca ketidakyakinan diwajahku, “Aku akan mengerti.”

Aku ragu sesaat, semua kemungkinan konsekuensi membanjiri kepalaku. Tetapi ketika Kai meraih tanganku, semuanya menyingkir dan aku tahu persis apa yang kuinginkan.

“Tidak akan,” kataku. “Aku tidak sabar ingin menjadi Ny. Kim Jong In.”

Syukurlah Ia tersenyum. Sebelum sadar apa yang terjadi, Kai mencondongkan tubuhnya dan mencium bibirku. Hanya sekilas tapi cukup membuat tubuhku bergetar. Aku suka caranya merangkulku. Seakan aku begitu rapuh dan mudah patah jika dirangkul  terlalu erat. Kai menempelkan dahinya kedahiku, seolah-olah waktu adalah milik kami berdua. Aku membiarkan tubuhku mendekat dan memeluknya. Kehangatan tubuhnya yang selalu membuatku tenang.

Aku tidak memerlukan Penghulu Malaikat, tidak menginginkan Pangeran tampan. Yang Kumau hanya dirinya, Kim Jong In.

Kali ini, Kai mengangkat tangan untuk menepiskan sejumput rambut yang jatuh menutupi mataku, lalu mencium keningku. Kecupan bibirnya bagaikan sentuhan sayap kupu-kupu.

“Apa yang sudah dipersatukan Tuhan, manusia tidak boleh menceraikannya.”

The End

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s